museum

Sabtu, 05 Mei 2012

SISTEMASI PEMAKNAAN DALAM PUISI


Pendahuluan
Sejak lama kritik sastra hendak mencari jalan yang paling mungkin mendekatkan pada penafsiran yang tepat, jelas dan efesien. Kegiatan kritik sastra yang tercatat pertama kali dilakukan oleh Xenophanes dan Heraclitus yang mengecam Homerus dan Hesiodes (± 500 SM). Hal itu dilakukan karena Homerus dan Hesiodes gemar menceritakan kisah bohong dan tidak senonoh terhadap Dewa-Dewi mereka. Akibatnya Homerus dan Hesiodes dicekal kemudian dilarang mengikuti Olimpiade di Athena. Ini kritik yang mengarah pada penciptanya secara langsung. Kemudian Plato (450 SM) muncul dengan Republic memberikan dasar-dasar orientasi kritik berdasarkan karya. Disusul kemudian oleh banyak pemikiran-pemikiran lain, sehingga akhirnya Post-strukturalisme (1960) memperaktekkan kritik yang mengarah pada pembaca. Dengan dekonstruksi Derrida, mereka membongkar teks kemudian membuat pemaknaan baru atasnya. Saya tidak ingin berpanjang-panjang dalam menyorot perbedaan pandangan strukturalisme dan post-strukturalisme. Yang jelas kedua aliran itu menyumbangkan pemikiran penting dalam hal kebahasaan. Begitu banyak jenis kritik sastra berdasarkan perbedaan sudut pandangnya, terlebih jika itu diambil dari berbagai pendapat kritikus sastra seperti M. H. Abrams, Rene Wellek, Jan van Luxemburg (dkk), Raman Selden, Edward W. Said. Juga termasuk pendapat Rachmat Djoko Pradopo yang membaginya hanya menjadi dua jenis: kritik sastrawan (umum) dan akademik.
Dua jenis kritik seperti yang telah dipisahkan oleh Rachmat Djoko Pradopo itu tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan. Kritik sastrawan cederung bersifat ekspresif, praktis, nyaman untuk dibaca, tetapi terkadang tidak memiliki dasar pijakan yang jelas jika merunut kode bahasa yang ada. Subyektifitas yang terkadang tidak berakar. Sedangkan kritik akademik terlalu panjang dan bertele-tele. Tanda-tanda terkecil diperhitungkan dengan teliti sehingga terkadang lupa pada substansi yang dibicarakan. Dan bentuk seperti ini tidak nyaman untuk dibaca. Tidak logis menurut saya jika memperhitungkan fonem dan jumlah huruf konsonan atau vokal dalam karya sastra hanya demi memunculkan penafsiran. Kemudian teks disulap menjadi sesuatu yang sakral dan terperhitungkan huruf-perhurufnya. Bukankah hasil akhir dari penafsrian adalah menyingkap makna? Teori, metodologi, aplikasi apa pun sah digunakan sejauh itu berkepentingan dengan pemaknaan. Tapi bukan berarti ia harus dengan langkah tidak logis, yang jika tanpa itu bisa dihasilkan pemaknaan yang sama.
Seperti yang telah dimaklumi, bahasa adalah sistem tanda. Premis ini telah lama dilontarkan oleh Ferdinand de Saussure, Charles Sanders Peirce dan dikembangkan oleh Roland Barthes dalam semiologinya dengan lebih menyorot pada makna konotasi. Kita tahu bahasa bukan sesuatu yang ada dengan sendirinya, yang bergerak dengan sendirinya, yang berdefinisi dengan sendirinya. Bahasa ada karena ia tuntutan dari komunikasi, ia alat untuk mencapai maksud penggunanya. Maka yang nyata di sini adalah kehendak penggunanya yang menjadi penggerak utama dari kata-kata. Ia memang tidak terwujud dalam bentuk konkret, tapi berkat dirinyalah bahasa ada. Setelah semiotika muncul, tidak ada yang sakral pada teks sastra. Semua yang ada di dalamnya adalah kode bahasa yang sign oriented (terarah ke tanda-tanda), semua bisa ditafsirkan sesuai kode bahasa tersebut.
Di sini saya sedikit berseberangan dengan pemikiran Heidegger (filsuf yang menulis buku monumental Being and Time) soal bahasa, seperti yang dijelaskan oleh F.Budi Hardiman dalam bukunya mengenai pokok pikiran Heidegger, “Bahasa adalah rumah Ada (das Haus des Seins), dan manusia bermukim di dalam bahasa.” Pernyataan itu keliru ketika menimbang bahasa bersifat aksidensi. Eksistensi suatu entitas lebih dulu ada dari esensinya (seperti maksud Sartre), baru kemudian dilakukan pengenalan dari entitas itu. Di sinilah kemunculan bahasa dimulai. Ia bukan substansi mutlak atau sebagai entitas murni, karena peran bahasa untuk memberikan identitas, kemudian untuk menyampaikan maksud penggunanya. Manusia tidak hidup dalam bahasa, tapi bahasa yang hidup dalam diri manusia. Bahasa bukan rumah bagi yang ada, tapi yang ada adalah rumah bagi bahasa. Ia tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya yang ada. Sebagaimana kita menunjuk nama kuning yang tidak akan ada tanpa wujud warnanya (kuning).
Jalan Simpang Pemaknaan
Ketika bahasa digunakan dalam sistem komunikasi berbeda dari fungsi awalnya, katakanlah sastra, sistem yang dimasuki bahasa ini mengakibatkan jalan simpang pemaknaan. Penafsiran makna terjebak dalam labirin-labirin ambiguitas. Meskipun begitu, tidak ada yang sakral atau transenden di sini saat pembacaan terfokus pada makna, bukan pada sistem-sistem pembentuknya saja, termasuk struktur dasar seperti fonem atau jumlah huruf konsonan dan vokalnya.
Pada awalnya, bahasa bukan sesuatu yang rumit, ia hanya jalan untuk menyampaikan maksud. Tetapi pembagian komponen, pengkelasan bentuk-bentuk yang muncul darinya, membuat kajian bahasa begitu pelik dan seolah berputar-putar. Konvensi yang berusaha ditetapkan tidak kokoh dan terus mengalami perkembangan seiring pergerakan dari bahasa itu sendiri. Hal itu dipersulit dengan munculnya istilah-istilah yang berjejalan. Yang marak berkembangan dalam penafsiran terhadap bahasa dalam sistem khusus ini kemudian hanya intuisi. Kode bahasa yang ada dalam sistem tersebut menghasilkan pemaknaan yang ambigu. Tetapi seseorang harus memilih satu jalur pemaknaan di antara beberapa lainnya, dengan pertimbangan logis berdasarkan kode bahasa.
Menyoal puisi, yang perlu digaris-bawahi adalah prihal petanda yang ada dalam tanda-tanda linguistik. Pananda dalam bentuk fisiknya juga penting untuk memisahkan kandungan petandanya masing-masing. Hal itu sekaligus untuk mewujudkan korelasi pemaknaan. Tapi persoalan inti yang muncul dalam penafsiran adalah petanda tersebut, ia acap kali memunculkan perbedaan sudut pandang yang besar karena tidak dicermati sistem di dalamnya. Dalam kajian makna metaforikal, saya sudah membahas ruang lingkup petanda ini. Tapi di sini yang hendak saya sorot adalah jalur-jalur pemaknaannya, yakni pemaknaan puisi secara utuh. Banyak orang hanya sekedar memanjakan intuisi, menurut saya begini, menurut saya begitu, tapi tidak menyertakan bukti konkret atasnya. Ini adalah bentuk subyektifitas yang tidak berakar. Penghisapan makna yang hanya didasarkan pada poin tertentu tanpa menimbang kode-kode bahasa yang ada dalam puisi. Dan ini bukan pemaknaan menyeluruh. Di sinilah sistem tanda dilupakan. Yang ada hanya penilaian intuitif tanpa dasar pijakan jelas.
Ulasan puisi kemudian hanya sekedar menjadi media orasi subyektifitas, media penumpahan wawasan penafsirnya, media penjejalan diktum-diktum disiplin ilmu lain. Jalur-jalur petanda dalam sistem tanda tadi diabaikan. Pemaknan menjadi kabur dan menjauh dari substansinya, pokok yang muncul bersebab kode bahasa tidak ditafsirkan. Lalu logika dipersalahkan. Puisi kemudian diagungkan dan dikatakan bukan wilayah logika lagi. Sebagai mahluk berpikir, tindakan seperti ini jelas tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara logis. Bukankah puisi adalah sebuah sistem komunikasi juga? Bukankah bahasa yang digunakan puisi itu adalah sistem tanda juga? Keterlacuran dalam penafsiran puisi sering muncul karena pengaruh intertekstualitas yang berlebihan, penjejalan diktum filsafat yang kebablasan, penyeretan pandangan psikologi yang kejauhan, pengaruh ilusi how to make it strange yang over. Padahal makna yang bersumber dari kode bahasa tadi malah diabaikan, atau hanya sebagian saja yang diambil sebagai rujukan. Yang banyak berjejal di dalamnya adalah, menurut saya begini, menurut saya begitu. Subyektifitas yang tidak memiliki dasar pijakan.
Di zaman postmodernisme yang tengah merayakan perbedaan atau heterogenitas ini tentu hendak membebaskan segala bentuk penafsiran. Penafsiran pada dasarnya adalah olah subyektifitas, siapapun memahami ini. Karena tidak ada yang benar-benar obyektif apalagi mutlak dalam sastra. Tetapi subyektifitas yang berakar tentu berbeda dari bias pemaksaan intuisi. Setelah lahirnya semiotika, kajian struktural, stilistika, tidak ada yang sakral pada puisi, apalagi mewah dalam arti transenden dan tidak tersentuh pemaknaan logis. Semua kandungan dalam puisi adalah bentuk dari sistem tanda, meskipun mungkin dalam satu penanda terkandung beberapa petanda, tapi ia bukan barang hidup yang bergerak dengan sendirinya. Banyaknya petanda yang muncul itu harus dikaitkan dengan jalur pemaknaan yang terbangun dalam puisi. Makna satu tanda adalah pancaran dari satu titik dengan berbagai jalur yang dimilikinya. Di sini, jalur paling logis menggugurkan jalur lain yang tidak terbangun secara utuh.
Ketika dikembalikan pada kehendak awal, karena yang nyata dalam bahasa kehendak penggunanya, hanya ada dua kemungkinan keterlacuran pemaknaan: 1. Penyair tidak mengarah pada maksud yang spesifik, sehingga ambiguitas pemaknaan tidak memiliki jalur yang selesai. Misalnya ia hendak bermaksud begini, tapi tidak menyertakan kode bahasa yang cukup. 2. Penafsir terlalu memanjakan intuisinya dan mengabaikan kode bahasa. Dalam tubuh puisi terkadang ada gen bebas, ia meloncat sehingga tidak sejalur dengan arah pemaknaan yang terbangun. Hal ini dimungkinkan karena ada dua sebab lagi: a) petanda yang terkandung dalam penanda tidak berkorelasi dengan petanda pada tanda lain. b) penafsir tidak memahami jalur pemaknaan dalam puisi karena ada beberapa petanda dalam satu penanda sehingga membelokkan pembacaan. Jika sebuah puisi tidak memiliki cukup kode bahasa yang melengkapi pemaknaan, di sana ada kesalahan pembentukan. Puisi seperti itu sudah bukan dalam struktur bahasa yang diciptakan untuk berkomunikasi. Ia lempung meleleh yang tidak memiliki bentuk jelas sebagai keramik.
Pada dasarnya sistem pemaknaan dalam puisi memiliki bagian yang berkaitan. Ia adalah bangunan makna yang saling menguatkan. Ia adalah jalur utama meski di tengah jalan mungkin ada persimpangan. Penyimpangan ini muncul karena banyaknya referen yang ditunjukkan oleh simbol dalam puisi. Ketika puisi menghadirkan beberapa jalur penyimpangan seperti ini, maka jalur terkuat adalah jalur yang paling logis karena ia didukung oleh kode bahasa terbanyak. Misalnya di awal penafsiran ada beberapa jalur yang cenderung mengarah pada makna tertentu, tapi di tengah jalan ada kode bahasa yang membuatnya berbelok, sehingga jalur itu terputus dan pemaknaan tidak selesai. Jika memang tidak ada jalur pemaknaan lain (yang didukung oleh bangunan pemaknaan), maka puisi seperti itu telah gagal memberikan petunjuk penafsiran atas dirinya. Puisi gelap (hermetis) yang tidak jelas hendak mengarah ke mana. Dalam kondisi semacam ini sebenarnya penafsiran tidak bisa dipaksakan. Karena hal itu hanya akan mengungkap sebagian makna, bukan keseluruhannya. Segala upaya intuitif hanya akan menuju pada aporia (yunani: tidak ada jalan keluar) karena puisi telah meloncat dari jalur pemaknaannya.
Sistem Pemaknaan Logis
Dalam apresiasi terbatas (kritik umum) yang hanya mengungkapkan poin-poin penting, hal itu mungkin masih bisa diterima. Penafsiran singkat seperti itu mempertimbangkan waktu dan keadaan. Meskipun dalam keterbatasan itu tetap ada sistem-sistem pemaknaan walau sederhana. Penafsiran atas puisi harus dibedakan dari komentar singkat, meskipun komentar atas puisi adalah sebagian dari apresiasi meski tidak terbangun sempurna. Puisi memiliki struktur, penafsiran atas puisi—yang paling terbatas sekalipun—harus tetap memperhatikan sistem-sistem pemaknaan. Jika ulasan itu ingin disebut sebagai penafsiran logis. Bagaimanapun, sebuah puisi memang cenderung melahirkan penafsiran yang berbeda. Itu sifat alami yang tidak bisa disatukan dalam pandangan universal. Kemunculan perbedaan tafsiran itu bisa disebabkan oleh banyak hal, tetapi yang menjadi pokok persoalan adalah, jika penafsiran yang ada tidak sesuai jalur pemaknaannya. Jalur yang dibentuk oleh sistem makna berdasarkan bukti-bukti konkret bahasa.
Sistem pemaknaan yang saya maksudkan itu bukan sebagai sistem yang terstruktur step by step, bukan sistem jadi yang bersifat ready for use, tapi ia merupakan unsur-unsur yang berkaitan dalam pemaknaan puisi. Baik dari segi bentuk teks atau yang berkaitan dengan panafsirnya. Dalam prakteknya, unsur-unsur itu tersimpan di berbagai aplikasi kritik sastra yang digunakan. Secara garis besar bisa diwujudkan dengan memperhatikan hal-hal berikut:
1. Proses Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik
Meminjam istilah Riffattere, pemaknaan terhadap karya sastra biasanya melewati dua tahap pembacaan, heuristik dan hermeneutik. Hasil pembacaan heuristik adalah penafsiran secara kasar berdasarkan makna harafiah dan strategi retoris yang muncul di permukaan. Penafsiran dalam bentuk ini adalah pemaknaan yang mendasar dan apa adanya. Tapi proses ini menjadi kerangka pembacaan yang lebih mendalam, yakni hermeneutik. Ketika puisi dibaca secara detail, jalur-jalur pemaknaan mulai terlihat berdasarkan kode bahasa. Dalam pembacaan hermeneutik inilah penafsiran yang sesungguhnya dilakukan. Meskipun bisa jadi dalam proses pembacaan ini akan muncul kemungkinan-kemungkinan pemaknaan lain. dengan sendirinya penciptaan teks ke dua (penafsiran) akan menempuh satu jalan keluar sebagai penyelesaian.
2. Analisa Struktur Metaforikal
Seperti yang pernah saya bicarakan sebelumnya (pada logika dalam puisi, 1 dan 2), metafor memiliki struktur pembentuk, juga keterkaitan tertentu. Struktur itu (dari segi fisik) adalah, pengias, subyek yang dikiaskan, kerja kias. Ketiga unsur itu harus memiliki keseimbangan bentuk. Misalnya pengiasnya atau subyek yang dikiaskan tidak sebangun, maka akan terjadi kepincangan logika. Seperti sosok maskulin dikiaskan dengan bunga yang identik dengan keindahan dan kelembutan, kecuali penggambaran itu sebagai kata majemuk yang mewakili keumuman, seperti bunga bangsa. Tetapi jika bunga dipaksakan sebagai kiasan dari sosok maskulin, maka antara pengias dan subyek yang dikiaskan tidak memiliki keseimbangan pengimajian. Dari segi intrinsiknya, metafor bertumpu pada, keterkaitan ide dalam metafor itu dengan ide pokok puisi, fungsi metafor tersebut: dalam hal ini yang dibutuhkan adalah fokus perkerjaannya, keselarasan dengan metafor lain.
Sebuah puisi yang gagal membentuk makna metaforikal karena unsur-unsur pembentuknya tidak seimbang cenderung membuat pemaknaan dipaksakan, karena hanya memperturutkan intuisi penafsir dibandingkan kode bahasa yang ada. Hal ini membuat pemaknaan menjadi kabur dan semata menjadi ajang orasi subyektifitas yang tidak berakar. Jika pembacaan terhenti di tengah jalan hanya karena ada satu struktur metaforikal yang gagal, maka pemaknaan akan ditarik keluar berdasarkan kesimpulan dari kode bahasa mayoritas. Analisa yang tepat pada struktur metaforikal ini akan memperjelas jalur pemaknaan. Sebuah metafor adalah sebuah sistem tanda, meski di dalamnya terkandung banyak petanda. Keseimbangan dan kesebangunan dari metafor itu dengan sendirinya akan mengarah pada pemaknaan yang paling kuat berdasarkan kode bahasa.
3. Sinkronisasi Petanda
Jika dalam satu penanda ada beberapa petanda, seperti keumuman metafor, maka perlu disinkronkan petanda itu dengan ide pokok dalam puisi, sehingga muncul satu petanda yang tersinkronisasi. Baru kemudian dihubungkan dengan petanda dalam penanda di tanda lain. Sinkronisasi petanda ini dimaksukan untuk memunculkan kesebangunan wacana. Puisi sesuai sifatnya yang ambigu memang memunculkan beberapa penafsiran, hal ini karena sistem makna metaforikal yang terlepas dari rumah bahasanya menghendaki makna baru. Seperti yang dimaksudkan Riffattere mengenai ketidak-langsungan ekspresi: perusakan arti (distorting of meaning, penggantian arti (displacing of meaning), penciptaan arti (creating of meaning). Dengan sinkronisasi ini penafsiran akan berjalan maksimal, meskipun tidak tertutup kemungkinan, tetap akan ada beberapa penafsiran jika ambiguitas itu tetap terbangun berdasarkan kode bahasa sampai akhir pembacaan puisi. Di sinilah sebenarnya peran intuisi penafsir yang sesungguhnya. Ia bekerja sesudah jalur-jalur pemaknaan menampakkan dirinya. Bukan sejak awal menciptakan jalur sendiri tanpa memperhatikan seluruh kode bahasa.
4. Memilih Jalur Pemaknaan yang Terbentuk Dalam Proses Pembacaan
Selepas sinkronisasi tadi, pembacaan akan dihadapkan pada kemunculan jalur-jalur pemaknaan. Di dalam puisi ada beberapa jalur pemaknaan sesuai dengan petanda yang terbaca di setiap penanda dalam tanda linguistik. Kemungkinan itu muncul karena efek ambiguitas didukung oleh kode bahasa yang sama-sama kuat. Bagaimanapun, pada akhirnya hanya akan ada satu pemaknaan, jalur-jalur tersebut akan tereliminasi oleh jalur pemaknaan terkuat. Jalur pemaknaan terlogis berdasarkan petunjuk yang digelar dalam puisi. Subyektifitas memang mungkin menjadi pilihan di sini, tetapi pilihan itu berdasarkan bukti-bukti konkret bahasa. Bukan pilihan bebas tanpa pertanggung-jawaban logis.
5. Data-data Intertekstualitas yang Mendukung (tapi bukan berlebihan)
Data-data yang mendukung ini adalah selama data-data itu membangun pemaknaan sesuai jalurnya. Jika data yang dimasukkan dari luar kajian terlalu banyak, maka pemaknaan akan melebar dari substansi kebahasaan. Padahal puisi menggunakan bahasa sebagai sarana untuk berkomunikasi, bahasa yang digunakan puisi bukan bahasa bercabang dan berbelit-belit. Ia adalah bahasa praktis yang memungkinkan penafsiran terwujud melalui struktur pembentuknya. Sedangkan bahasa adalah sistem tanda. Kepentingan puisi pada bahasa, sejauh itu memungkinkannya memberikan pengertian dalam jalur yang jelas. Bahasa jika diseret dalam kajian berat, misalnya filsafat bahasa, cenderung berputar-putar dan membutuhkan koneksitas yang sangat lebar. Kajian-kajian di dalamnya tidak memiliki kesimpulan yang selesai. Ia bukan konvensi bulat sebagaimana konvensi yang digunakan dalam bahasa praktis. Tapi di dalamnya merupakan kumpulan premis-premis yang terus diuji sepanjang masa. Padahal di sisi lain, bahasa secara praktis telah ada dan disepakati. Koreksi-koreksi di dalam bahasa secara mendalam untuk menghadirkan konvensi baru yang lebih kuat dari sebelumnya. Dan hal itu tentu membutuhkan ruangan lain, bukan dalam proses kritik sastra.
6. Obyektifitas yang Didasarkan Pada Kode Bahasa
Tidak ada pemaknaan yang benar-benar obyektif, tetapi ada perbedaan besar ketika pembacaan atas makna puisi didasarkan pada kode bahasa yang ada. Bukan hanya didasarkan pada intuisi penafsir. Sesuai sifat alaminya, intuisi berjalan sendiri dan tidak selalu seiring dengan jalur pemaknaan. Hakikatnya penafsir bebas berinterpretasi dan tidak harus sama dengan gagasan penyair. Boleh jadi penyair tidak memberikan kode bahasa yang cukup lengkap. Ia hendak menceritakan sesuatu, tapi tidak didukung oleh petunjuk yang ada dalam puisinya. Di sinilah tarik-menarik itu, penyair sebisa mungkin menghadirkan kode bahasa yang membangun penafsiran. Karena puisi tercipta sebagai bentuk komunikasi. Sedangkan penafsir sedapat mungkin mengikuti petunjuk melalui kode bahasa yang diberikan penyair agar tercipta keterkaitan pemaknaan.
Seorang penyair memang tidak harus memahami teori-teori terkait setudi keilmuan. Upaya yang mesti dilakukan penyair adalah sejauh itu berkaitan dengan penciptaan karya. Di sini hal-hal pokok itu terkandung dalam konvensi bahasa, konvensi sastra, dan konvensi budaya. Lebih jauh dari itu merupakan bonus, tapi bukan keharusan yang mesti dikejar dan dikuasai. Puisi dari segi proses penciptaan tidak bisa diukur apalagi dituntun. Ia menyoal pengasahan skill yang berkaitan dengan perasaan penyair. Setiap orang tentu memiliki karakteristik berbeda, begitu juga jalur-jalur penuangan ide ke dalam medium bahasa. Sebaliknya, seorang kritikus tidak harus pandai membuat puisi hanya untuk membongkar dan memahami puisi. Wilayah-wilayah tersebut bisa jadi dikuasai sekaligus oleh seseorang, namun bukan keharusan untuk bisa begitu.
7. Fokus Pada Ide Pokok dan Mengabaikan Kode Bahasa yang Mandul
Seorang penafsir adalah pencipta teks ke dua sesudah puisi ada sebagai teks pertama. Di sini terdapat ikatan yang kuat antara teks pertama dan teks ke dua. Maka sebagaimana puisi diciptakan, seorang penafsir harus memperhatikan ide pokok dalam puisi. Ia bukan hanya topik pembicaraan, tapi ia merupakan sulur-sulur tempat kode bahasa bergelayutan. Puisi selalu membuka ruang-ruang pemaknaan baru, itu adalah fakta yang tidak bisa dihindari. Tetapi keruangan pemaknaan itu tetap harus berdasar pada kode bahasa yang muncul. Sesuai dengan bentuknya, puisi adalah bangunan sistem tanda. Maka pemaknaan mengikut pada sistem tersebut agar ia membentuk opini yang terbangun, berdasar, dan tidak ngawur.
Kesimpulan
Puisi bukanlah teks sakral yang ada begitu saja atau turun dari langit dengan segala keagungannya. Teks itu semata teks yang merupakan sistem tanda, darinya memancar jalur-jalur pemaknaan. Yang dikatakan agung pada puisi adalah kandungan isinya, maksud penyair yang tersimpan dalam balutan diksi dan gaya bahasa. Nilai itu dilihat dari sugesti yang mengarahkan pembaca pada hal-hal baik untuk mengikutinya. Dengan sendirinya, puisi dan umumnya karya sastra hendak mengangkat harkat kemanusiaan dengan pengajaran moral yang lebih tinggi. Permasalahannya, puisi menggunakan makna metaforikal dalam menyampaikan maksud. Sistem kebahasaan yang dimilikinya menghadirkan jeda dalam pemahaman. Pembaca tidak menangkap maksud di dalamnya secara langsung, ia terlebih dahulu harus mencari ide pokok (mirip dengan hipogram versi Riffattere) yang tersembunyi dalam kiasan.
Selaras dengan premis Rachmat Djoko Pradopo yang membagi jenis kritik sastra menjadi dua bagian: kritik umum dan akademik, menghadirkan fakta di lapangan yang membuat dua bentuk itu memiliki perbedaan besar dalam penyajian. Kritik umum lebih bersifat praktis dan hendak mengungkap kelebihan-kelebihan karya sastra. Jenis ini langsung masuk ke dalam pembahasan dan membuang kajian-kajian yang dirasa bertele-tele dan tidak perlu. Bentuk ini memang lebih nyaman untuk dibaca, tetapi banyak apresiasi dalam bentuk ini yang cenderung memanjakan subyektifitas dan meninggalkan pijakan dasar pemaknaan. Dalam ruang dan situasi terbatas, poin-poin penting yang diangkat dalam bentuk praktis tersebut memang lebih pas. Namun bukan berarti ia benar-benar berlepas diri dari dasar-dasar penafsiran sesuai kode bahasa yang ada. Pemaknaan yang tidak berakar justru akan membuat jurang perbedaan dalam penafsiran semakin menjauh.
Melihat kecenderungan dalam kritik sastra, yakni menimbang pendekatan yang efesien dan terarah, pemaknaan terhadap karya sastra (khususnya puisi) harus berjalan pada sistem-sistem tertentu. Hal ini bukan untuk memutlakkan, karena memang tidak ada yang mutlak di sana, tapi demi menghasilkan pembacaan terarah sesuai petunjuknya. Bukan interpretasi yang melenceng dari pokok yang dibicarakan. Subyektifitas yang ada kemudian adalah soal pengambilan sudut pandang, tetapi jalur-jalur pemaknaan yang ditempuh sesuai dengan tanda-tanda linguistik yang terbaca. Jalur-jalur itu selalu sama dan tersistemasi. Karena setiap kata dalam puisi membentuk jaringan pemaknaan antar bagian (hubungan paradigmatik), yang kemudian hal itu akan membentuk struktur makna lebih luas (hubungan sintagmatik). Pembacaan yang baik hendaknya melalui atau menggunakan sistem-sistem pemaknaan, di antaranya: proses pembacaan heuristik dan hermeneutik, analisa struktur metaforikal, sinkronisasi petanda, memilih jalur pemaknaan logis yang terbentuk, data-data intertekstualitas yang mendukung tapi tidak berlebihan, obyektifitas yang didasarkan pada kode bahasa, fokus pada ide pokok dan mengabaikan kode bahasa yang mandul.


Kajitow El-kayeni

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar